• Kamis, 7 Juli 2022

Pemuda Klungkung Gagas Living Museum Natural Salt, Sejahterakan Petani Garam Desa Pesinggahan

- Selasa, 19 April 2022 | 11:55 WIB
I Gede Arya Nata Wijaya, pemuda kelahiran Desa Pesinggahan, Gagas Living Museum Natural Salt
I Gede Arya Nata Wijaya, pemuda kelahiran Desa Pesinggahan, Gagas Living Museum Natural Salt

RAKYAT BALI, Klungkung - Memiliki berbagai tempat wisata spiritual, kuliner dan keindahan alam tidak menjamin kesejahteraan masyarakat Desa Pesinggahan terkhusus para Petani Garam Tradisional yang ada di pesisir pantai Banjar Belatung, Desa Pesinggahan.

Jumlah petani garam tradisional di Banjar Belatung kini terancam punah karena hanya tersisa tiga KK yang menjalani profesi sebagai petani garam tradisional.

Pemuda kelahiran Pesinggahan, I Gede Arya Nata Wijaya yang merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Udayana prihatin melihat permasalahan ini. Dari hasil survei yang dilakukannya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan berkurangnya petani garam tradisional di desanya tersebut, pertama, tidak ada generasi mereka yang mau meneruskan usaha mereka dalam membuat garam secara tradisional.

"Anak cucu mereka lebih memilih beralih profesi karena usaha pembuatan garam secara tradisional tergolong berat dan usaha di bidang lain yang lebih menjanjikan, seperti pemandu wisata, pegawai, dan sebagainya," ujarnya.

Selain itu, pandemi Covid-19 juga mengakibatkan penurunan perekonomian menjadi faktor harga garam di pasaran tidak menentu, sehingga keuntungan yang
didapatkan oleh petani garam tidak bisa diprediksi dan Faktor cuaca menjadi poin utama penghambat produksi garam tradisional karena proses pembuatan dengan cara tradisional membutuhkan terik matahari.

Menelisik berbagai permasalahan yang dihadapi petani garam tradisional di Desa Pesinggahan, Arya Nata Wijaya yang juga menjadi Finalis Bagus Klungkung 2022 menggagas inovasi guna meningkatkan kesejahteraan petani garam tradisional dengan konsep Living museum Natural Salt Pesinggahan.

Produksi garam oleh petani garam tradisional Desa Pesinggahan

Konsep Living Museum adalah upaya mempertahankan dan mengembangkan hidupnya sejarah dari sebuah lokasi dan menjadikan kawasan sebagai diorama hidup yang memungkinkan seseorang terjun dalam pengalaman berbudaya. Dengan konsep diatas maka Living Museum adalah cara yang dapat dilakukan sebagai alternatif edukasi dan penerapan Sapta Pesona yaitu “Kenangan” yang bisa di dapatkan oleh wisatawan. Dengan pengalaman langsung yang konkret, wisatawan dapat lebih nyata menghayati nilai-nilai sejarah dan budaya yang ada di lingkungan tersebut.

Tertuang dalam surat edaran Gubernur Bali no 17 tahun 2021 bahwa Produk Garam Tradisional Bali merupakan produk berbasis ekosistem Alam Bali dan pengetahuan warisan leluhur sebagai budaya kreatif Krama Pesisir Bali yang sudah patutnya dilindungi, dilestarikan, diberdayakan serta dimanfaatkan guna memperkokoh dan mensejahterakan masyarakat itu sendiri.

Halaman:

Editor: Putu Wirawan Mahayana

Tags

Terkini

Undiksha Sambut Baik Kehadiran GMNI di Buleleng

Senin, 4 April 2022 | 20:39 WIB

Daftar UMP Terbaru Tahun 2022 Wilayah Jawa dan Bali

Minggu, 13 Maret 2022 | 22:51 WIB

Terpopuler

X